KISAHKU
"Apa hubungan ini benar-benar sudah tidak bisa dipertahankan lagi?" Tanya ku lagi. "Iya." Jawabnya singkat. "Apa alasannya?" Aku kembali bertanya seakan meminta penjelasan. "Ribet". Jawabnya lagi.
Degg. Dunia terasa berhenti. Hati ku hancur lebur mendengar jawaban singkat itu. Hubungan yang sudah berjalan hampir 3 tahun ini, hubungan yang terlihat harmonis dan bahagia, begitu mudahnya hancur dengan satu kata, "ribet".
Aku tau persis apa yang dimaksud olehnya.
"Ribet". Satu kata yang menjelaskan permasalahan utama hubungan kami.
Aku dan dia memang tinggal di kota yang sama. Namun daerah asal kami berbeda. Dia penduduk asli kota ini, sedangkan aku, dari luar kota. Yang menjadi permasalahan adalah adat kami yang bertentangan. Adat ku mengharuskan pasangan yang sudah menikah tinggal bersama orang tua wanita. Sedangkan adat dia melarang untuk hal seperti itu.
Mungkin hal inilah yang dia maksud dengan "ribet" itu.
Awal perkenalan kami, hal ini sudah menjadi sesuatu yang mengganjal di benak ku. Aku menyayangi dia, namun aku pun tidak ingin menentang adat, demi orang tua ku.
Orang tua ku tau mengenai hubungan kami. Aku sering berdiskusi dengan mereka mengenai hubungan ini. Aku juga meminta restu kepada orang tua ku untuk tetap tinggal bersama Tama setelah menikah nanti. Orang tuaku mengijinkan.
Dengan restu dari orang tua ku, aku sedikit lega menjalani hubungan dengan Tama.
* * *
Akhir Bulan Oktober tahun 2015, awal pertemuan kami. Aku tidak menyangka akan berkenalan dengan Tama. Senior yang 3 tingkat lebih tua dari ku. Hal itu diawali dari sosial media. Pada saat itu, hari Minggu aku sedang di salon menemani adik sahabat ku. Bosan menunggu, aku sibuk dengan sosial media ku. Tiba-tiba ada seseorang yang mengirim pesan Via BBM.
"Orang Lampung, ya?" Tanya nya memulai percakapan.
"Bukan, memang kenapa?". Aku balik bertanya.
"Oh, kirain orang Lampung soalnya nge-like postingan saya". Jawabnya.
Percakapan itu pun terus berlanjut hingga sore.
Aku dan Tama masih sibuk dengan tugas akhir kami. Dia dengan program komputer nya, dan aku, sibuk dengan penelitian ku.
Namun, hampir tak ada satu hari pun yang kami lewat kan untuk bersama. Karena memang kami satu fakultas sama-sama sedang mengurus skripsi, seminar, dan sidang. Selain itu, kami berdua punya hobi yang sama, maen game. Hal itulah yang membuat kami betah menghabiskan waktu bersama.
preet
BalasHapus